Memahami Pentingnya menggunakan JSA (Job Safety Anaysis)

Related image

K3 yaitu suatu kondisi pada pekerja dengan tingkat keselamatan kerja dan kesehatan kerja yang setinggi-tingginya, jauh dari Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja. Agar seseorang pekerja tidak alami Penyakit Akibat Kerja dan kecelakaan kerja, maka perlu diusahakan beberapa aksi perbaikan diantaranya pada lingkungan kerjanya.

Suatu lingkungan kerja nyaman apabila lingkungan kerja itu, baik dengan cara fisik, kimia dan biologi tidak menyebabkan masalah kesehatan pekerja. Aspek fisik misalnya suhu tempat kerja, bising, getaran/vibrasi, radiasi ataupun pencahayaan baik, aman untuk kesehatan, aspek kimiawi baik untuk sistem produksi ataupun hasil produksi suatu tempat kerja tidak mengganggu kesehatan pekerja, demikian juga unsur biologi yang ada ditempat kerja dan ada aplikasi ergonomi yang baik. Suhu yang tinggi dan kebisingan ditempat kerja benar dapat menyulut terjadinya suatu kecelakaan kerja ataupun Penyakit Akibat Kerja.

Karenanya ada beragam aspek yang bisa mengganggu kesehatan kerja, maka perlu dilakukan identifikasi bahaya ditempat kerja. Identifikasi bahaya ditempat kerja perlu dilakukan, lalu dievaluasi apabila berada diluar standard yang ada maka dapat dilakukan ingindalian yang ideal ditempat kerja agar aman untuk pekerja. Banyak cara yang bisa dilakukan baik dari segi mesin, instalasi ataupun perlengkapan yang dipakai.

Sumber bahaya ditempat kerja dapat datang dari bangunan, perlengkapan, instalasi, bahan produksi, sistem produksi, cara kerja ataupun lingkungan kerja. Bahaya-bahaya itu dapat menyebabkan peledakan, kebakaran, kecelakaan dengan beragam derajat, dapat juga menyebabkan alergi, rusaknya kulit dan jaringan badan, kanker, keracunan, radio aktif ataupun kelainan janin.

Sedangkan cara pengendalian bahaya itu dapat dengan cara engineering misalnya ganti bahan beresiko dengan yang kurang beresiko, mengisolasi sumber bahaya, mengadakan ventilasi yang baik ; aksi administratif pada pekerja apabila gagal diberikan alat pelindung diri untuk pekerja seperti pakaian pelindung, sepatu safety terbaru dll. JSA ada 3 macam:

Manfaat Penerapan JSA

  1. Dapat temukan bahaya fisik yang sudah ada disuatu pekerjaan dan sekaligus dapat memastikan cara yang tepat untuk menyingkirkan atau mengatur keadaan dan aksi yang bisa membahayakan ;
  2. Dapat memastikan type alat peralatan pengaman yang tepat sesuai type pekerjaan dan dapat untuk memastikan kwalifikasi petugas, seperti keadaan kesehatan, ketrampilan atau kekuatan khusus yang diperlukan, dan sebagainya ;
  3. Dapat mempermudah dalam merumuskan standard proses pekerjaan yang sesuai dengan tuntutan operasi yang efektif dan aman, termasuk instruksi, pendidikan dan kursus ;
  4. Aplikasi standard pekerjaan yang aman akan memberikan keyakinan setiap pekerja dalam melakukan pekerjaannya dengan cara berkelanjutan dan aman hingga dapat bekerja lebih produktif ;
  5. Rumusan ikhtisar JSA dapat dipakai sebagai daftar check (check daftar) ketika mengevaluasi kemampuan K3 ditempat kerja.

Manfaat Aplikasi JSA

  1. Turunkan kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja ;
  2. Setiap bahaya yang nampak dapat diidentifikasikan dan perusahaan mengambil keputusan ingindalian resiko, hingga apabila aplikasinya teratasi, maka hal itu dapat turunkan kecelakaan ;
  3. JSA dapat menolong penyelidikan kecelakaan ;
  4. Jika suatu kecelakaan terjadi disuatu pekerjaan yang sudah dianalisis, maka dengan memakai hasil analisa itu perusahaan dapat tahu penyebabnya munculnya kecelakaan dan mengambil keputusan perbaikan yang diperlukan. Jika terdapat bahaya yang belum teridentifikasi, dengan JSA ini dapat di ketahui ;
  5. JSA dapat diintegrasikan kedalam system mutu dan manfaat produksi pada saat yang berbarengan.

Manfaat Aplikasi JSA

  1. Menggerakkan prinsip perusahaan di bagian K3 ;
  2. Meyakinkan prosedur kerja yang dilakukan yaitu prosedur kerja aman ;
    Prosedur kerja yang dilakukan adalah prosedur kerja yang berkelanjutan. Bila seorang pekerja dipindahkan ke bagian lain/keluar dari tempat kerja/wafat dunia, maka pekerjaan yang dilakukan tetaplah jalan berkelanjutan.

K3 Perkantoran

Di era globalisasi menuntut pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di setiap tempat kerja termasuk di bidang kesehatan. Karenanya kita perlu meningkatkan dan tingkatkan K3 di bidang kesehatan dalam rencana menghimpit serendah mungkin resiko kecelakaan dan penyakit yang muncul akibat jalinan kerja, dan tingkatkan produktivitas dan efesiensi.

Dalam proses pekerjaan keseharian karyawan/pekerja di bidang kesehatan tidak kecuali di Tempat tinggal Sakit ataupun perkantoran, akan terpajan dengan kemungkinan bahaya ditempat kerjanya. Kemungkinan ini beragam dari mulai yang paling enteng sampai yang paling berat bergantung type pekerjaannya.

Dari hasil riset di fasilitas kesehatan Tempat tinggal Sakit, sekitar 1. 505 tenaga kerja wanita di Tempat tinggal Sakit Paris alami masalah muskuloskeletal (16%) dimana 47% dari masalah itu berbentuk nyeri di daerah tulang punggung dan pinggang. Dan dilaporkan juga pada 5. 057 perawat wanita di 18 Tempat tinggal Sakit diperoleh 566 perawat wanita ada jalinan kausal pada pemajanan gas anestesi dengan tanda-tanda neoropsikologi diantaranya berbentuk mual, kelelahan, kesemutan, keram pada lengan dan tangan.

Di perkantoran, sebuah studi tentang bangunan kantor modern di Singapura dilaporkan kalau 312 responden diketemukan 33% alami tanda-tanda Sick Building Syndrome (SBS). Keluhan mereka biasanya cepat capek 45%, hidung mampat 40%, sakit kepala 46%, kulit kemerahan 16%, tenggorokan kering 43%, iritasi mata 37%, lemah 31%.

Dalam Undang-undang Nomor 23 Th. 1992 mengenai Kesehatan, pasal 23 tentang kesehatan kerja dijelaskan kalau usaha kesehatan kerja harus diseleng-garakan pada setiap tempat kerja, terutama tempat kerja yang memiliki kemungkinan bahaya kesehatan yang besar untuk pekerja agar dapat bekerja dengan cara sehat tanpa ada membahayakan sendiri dan orang-orang seputarnya, untuk peroleh produktivitas kerja yang maksimal, searah dengan program perlindungan tenaga kerja.

HAL-HAL YANG BERHUBUNGAN PELAKSANAAN K3 PERKANTORAN
Ada banyak hal penting yang perlu memperoleh perhatian berkenaan dengan proses K3 perkantoran, yang pada intinya harus memerhatikan 2 (dua) hal yakni indoor dan outdoor, yang bila diuraikan seperti berikut ini :

  • Konstruksi gedung bersama peralatannya dan operasionalisasinya pada bahaya kebakaran dan kode pengerjaannya.
  • Jaringan elektrik dan komunikasi.
  • Kwalitas hawa.
  • Kwalitas pencahayaan.
  • Kebisingan.
  • Display unit (tata ruang dan alat).
  • Hygiene dan sanitasi.
  • Psikososial.
  • Pemeliharaan.
  • pemakaian Computer.

PERMASALAHAN K3 PERKANTORAN DAN REKOMENDASI
Konstruksi gedung :

  • Disain arsitektur (segi K3 di perhatikan dari mulai step rencana).
  • Seleksi material, misalnya tidak memakai bahan yang membahayakan seperti asbes dan lain-lain.
  • Seleksi dekorasi sesuai dengan azas maksudnya misalnya pemakaian warna yang sesuai dengan keperluan.
  • Sinyal khusus dengan pewarnaan kontras/kode khusus untuk objek penting seperti peralatan alat pemadam kebakaran, tangga, pintu darurat dan lain-lain. (peta panduan pada setiap ruangan/unit kerja/tempat yang strategis misalnya dekat lift dan lain-lain, lampu darurat menuju exit door).

Kwalitas Hawa :

  • Kontrol pada temperatur ruang dengan menempatkan termometer ruangan.
  • Kontrol pada polusi
  • Pemasangan “Exhaust Fan” (perlindungan pada kelembapan hawa).
  • Pemasangan stiker, poster “dilarang merokok”.
  • System ventilasi dan penyusunan suhu hawa dalam ruang (tempat hawa masuk, ekstraksi hawa, filtrasi, pembersihan dan pemeliharaan dengan cara berkala filter AC) minimum satu tahun sekali, kontrol mikrobiologi dan distribusi hawa untuk mencegah penyakit “Legionairre Diseases “.
  • Kontrol pada linkungan (kontrol didalam/di luar kantor).
  • Misalnya untuk indoor : penimbunan beberapa barang sisa yang menyebabkan debu, bau dan lain-lain.
  • Outdoor : disain dan konstruksi tempat sampah yang penuhi prasyarat kesehatan dan keselamatan, dan lain-lain.
  • Rencana jendela berkenaan dengan perubahan hawa bila AC mati.
  • Pemasangan fan didalam lift.
    Kwalitas Pencahayaan (penting mengetahui type cahaya) :
  • Meningkatkan system pencahayaan yang sesuai sama type pekerjaan untuk menolong sediakan lingkungan kerja yang sehat dan aman. (dengan cara berkala diukur dengan Luxs Mtr.)
  • Menolong tampilan visual melalui keselarasan warna, dekorasi dan lain-lain.
  • Menegembangkan lingkungan visual yang tepat untuk kerja dengan gabungan cahaya (agar tidaklah terlalu cepat terjadinya kelelahan mata).
  • Rencana jendela berkenaan dengan pencahayaan dalam ruang.
  • Pemakaian gorden untuk penyusunan cahaya dengan memerhatikan warna yang dipakai.
  • Pemakaian lampu emergensi (emergency lamp) di setiap tangga.

Jaringan elektrik dan komunikasi (penting agar bahaya dapat dikenali) :
Internal

  • Over voltage
  • Jalinan pendek
  • Induksi
  • Arus berlebih
  • Korosif kabel
  • Kebocoran instalasi
  • Kombinasi gas eksplosif

Eksternal

  • Aspek mekanik.
  • Aspek fisik dan kimia.
  • Angin dan pencahayaan (cuaca)
  • Binatang pengerat dapat mengakibatkan rusaknya hingga terjadi jalinan pendek.
  • Manusia yang lengah pada resiko dan SOP.
  • Bencana alam atau buatan manusia.

Referensi Kesehatan dan Keselamatan Kerja Perkantoran

  • Pemakaian central stabilizer untuk hindari over/under voltage.
  • Pemakaian stop kontak yang sesuai sama keperluan (tidak berlebihan) hal semacam ini untuk hindari terjadinya jalinan pendek dan keunggulan beban.
  • Penyusunan tata letak jaringan instalasi listrik termasuk kabel yang sesuai sama prasyarat kesehatan dan keselamatan kerja.
  • Perlindungan pada kabel dengan memakai pipa pelindung.

Kontrol terhadap kebisingan :

  • Idealnya ruang rapat diperlengkapi dengan dinding kedap nada.
  • Di depan pintu ruang rapat di beri sinyal ” berharap tenang, ada rapat “.
  • Dinding isolator khusus untuk ruang genset.
  • Hak-hal yang lain telah termasuk dalam rencana konstruksi gedung dan tata ruang.

Display unit (tata ruang dan letak) :

  • Panduan disain interior agar dapat bekerja fleksibel, fit, luas untuk pergantian posisi, pemeliharaan dan penyesuaian.
  • Rencana disain dan dan letak mebel (1 orang/2 m?).
  • Ratio ruang pekerja dan alat kerja dari mulai step rencana.
  • Perhatikan ada bahaya radiasi, daerah gelombang elektromagnetik.
  • Ergonomik segi pada manusia dengan lingkungan kerjanya.
  • Tempat untuk istirahat dan shalat.
  • Pantry diperlengkapi dengan lemari dapur.
  • Ruang tempat penampungan arsip sesaat.
  • Workshop station (bengkel kerja).

Hygiene dan Sanitasi :
Ruang kerja

  • Pelihara kebersihan ruang dan alat kerja dan alat penunjang kerja.
  • Dengan cara periodik perlengkapan/penunjang kerja perlu di up grade.

Toilet/Kamar mandi

  • Disiapkan tempat bersihkan tangan dan sabun cair.
  • Bikin beberapa panduan tentang pemakaian closet duduk, larangan berbentuk gambar dan lain-lain.
  • Penyediaan bak sampah yang tertutup.
  • Lantai kamar mandi diupayakan tidak licin.

Kantin

  • Memerhatikan personal hygiene untuk pramusaji (pemakaian tutup kepala, celemek, sarung tangan dan lain-lain).
  • Penyediaan air mengalir dan sabun cair.
  • Lantai tetaplah terpelihara.
  • Penyediaan makanan yang sehat dan bergizi seimbang. Pemrosesannya tidak memakai minyak goreng dengan cara berulang.
  • Penyediaan bak sampah yang tertutup.
  • Pada umumnya di setiap unit kerja di buat poster yang berhubungan dengan pemeliharaan kebersihan lingkungan kerja.

Psikososial

  • Petugas keamanan ditiap lantai.
  • Reporting sistem (komunikasi) ke unit pengamanan.

Menghindar budaya kekerasan di tempat kerja yang dikarenakan oleh :

  1. Budaya nrimo.
  2. System pelaporan macet.
  3. Ketakutan melaporkan.
  4. Tidak tertarik/cuek dengan sekitar lingkungan.
  • Segalanya di atas dapat diatasi melalui pembinaan mental dan spiritual dengan cara berkala minimum satu bulan sekali.
  • Penegakan disiplin di tempat kerja.
  • Olah raga ditempat kerja, sebelumnya mengawali kerja.
  • Menggalakkan olah raga setiap jumat.

Pemeliharaan

  • Melakukan walk through survey setiap bln./triwulan atau semester, dengan mempertimbangkan resiko berdasar pada beberapa aspek konsekwensi, pajanan dan peluang terjadinya.
  • Melakukan corrective action jika ada beberapa hal yang tidak cocok dengan ketetapan.
  • Kursus tanggap darurat dengan cara periodik untuk pegawai.
  • Kursus investigasi pada peluang bahaya bom/kebakaran/demostrasi/bencana alam dan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) untuk unit pengaman.

Kenali Bahaya & Gunakan APD

Banyak kecelakaan terjadi akibat lemahnya kekuatan dan pengetahuan pekerja untuk mengetahui bahaya seawal mungkin dan lalu mengambil aksi mencegah. Setiap karyawan harus mengambil aksi yang sesuai pada kemungkinan yang didapati. Dengan mengawasi sendiri dan rekanan kerja, mereka dapat menghindar digunakannya cara yang beresiko untuk merampungkan pekerjaannya sesegera mungkin. Manajemen harus memberi support, dengan bertanggungjawab untuk bikin suasana yang sangat mungkin terbentuknya budaya K3, dan dengan mempersyaratkan pekerja untuk bekerja dengan aman dan mensupport system kerja yang bisa menolong mereka untuk bekerja dengan aman. Ada enam langkah yang diperlukan untuk seorang untuk bekerja dengan aman :

  • Rasakan suasana bahaya, Bisakah saksikan, rasa atau dengar?
  • Ketahuilah bahaya, Apakah tahu bagaimana bahaya dari pekerjaan itu?
  • Rencanakan aksi apa yang akan kerjakan?
  • Kerjakan cara paling baik apakah melakukan yang paling baik?
  • Memelihara cara itu agar jalan, Bagaimana memiharanya?
  • Saksikan, bicara dan dengarkan setiap input, Bagaimana kita membuatnya lebih baik?

Rasakan
Bila seorang tidak bisa rasakan bahaya, maka dia akan tidak melakukan tindakan apa pun. Bagaimana caranya kita mengetahui bahaya? Selain terlihat, bahaya dapat juga kita rasakan dengan cara lain. Mendengar sama pentingnya bila kita ingin terlepas tertabrak kendaraan dari belakang. Penciuman dapat mengingatkan kita ada gas beresiko di hawa yang bisa saja beracun atau dapat meledak. Perasaan ada getaran yg tidak umum juga adalah peringatan yang bermanfaat. Belajar untuk mengetahui bahaya biasanya selalu diabaikan, terlebih untuk mereka yang sudah memiliki pengalaman kerja, namun semakin lebih baik bila kita meyakinkan apakah setiap pekerja dapat mengidentifikasi bahaya yang meneror dianya sebelumnya mereka mulai bekerja.

Ketahui
Bila sudah rasakan bahaya belum bermakna dapat tahu kemungkinan bahaya itu. Langkah yang penting yaitu tidak cuma dengan lihat bahaya di tempat kerja, namun juga mengetahui potensi bahayanya. Orang dapat punya kebiasaan pada bahaya yang didapati sehari-hari dan lama kelamaan akan melupakan resikonya. Mengerti bahaya akan mengakibatkan kita perduli terhdapatnya pikirkan keparahan akibat bahaya akan bikin kita ingin menghindarinya. Tahu bahaya memang memerlukan peraasaan namun setelah itu tidak mudah karena harus tahu apa arti bahaya itu. harus belajar selalu untuk cemas walau tidak memperoleh kecelakaan.

Rencanakan
Mengerti bahaya yang saksikan hanya langkah awal. Pertanyaan setelah itu yaitu apa yang akan kerjakan? Jawaban “berhati-hati” kurang mencukupi karena waspada memerlukan ketrampilan yang perlu dipelajari. Beberapa hal yang perlu diperhitungkan yaitu :

  • Bisakah kita hindari semua bahaya itu?
  • Bisakah kita mengisolasi bahaya atau memakai APD?
  • Haruskah kita singkirkan bahaya itu?

Buat sejenis himpunan cara yang bisa kita gunakan (pakai hirarki kontrol). Berkerja dengan kemungkinan bahaya mengharuskan kita memilih cara yang paling baik, dari mulai hindari bahaya itu sampai bekerja dengan sangat waspada. Peringatan akan ada bahaya dan mempersiapkan info K3 yang ideal yaitu fasilitas penting untuk meyakinkan gagasan paling baik akan jalan dengan aman.

Kerjakan
Setelah mengambil keputusan gagasan yang efisien, pertanyaan setelah itu yaitu bagaimana memastikannya tetaplah jalan? Langkah pertama yaitu buat kondisi kerja yang bisa memudahkan pengerjaannya dan susah untuk menampiknya.
Penting untuk dipahami apakah permasalahan yang akan nampak yaitu permasalahan organisasi atau individu pekerja. Input dari pengawas kerja dan dari pekerja tersebut adalah hal yang penting untuk dipelajari dan ditindaklanjuti baik oleh pekerja, pengawas ataupun manajemen.

Memeliharanya
Salah satu permasalahan paling besar yaitu meyakinkan apakah pekerja sudah jadikan K3 sebagai budaya yang berkepanjangan. Membuat suatu budaya sesungguhnya mudah namun susah. Bikin suatu program untuk pelihara budaya yang baik yaitu dengan membuatnya mudah dilakukan.

Saksikan, Bicara dan Dengarkan
Tak ada orang yang bisa mengatur dianya untuk bekerja dengan aman setiap waktu. Meskipun seorang memiliki perhatian K3 yang tinggi, mereka tetap harus dapat bertindak tidak aman, karena setiap manusia tentu dapat melakukan kekeliruan. Terkadang kita mengerti bila kita salah ketika kekeliruan itu sudah terjadi, terkecuali ada yang mengingatkan kita ketika melakukan kekeliruan itu. Kita harus mengingatkan rekanan kita ketika kita lihat mereka melakukan kekeliruan. Kembangkanlah kekuatan kita dalam tingkatkan rekanan kerja dan dengarkan inspirasi ide merekan akan K3
“Sebelum mengawali pekerjaan, ketahui bahaya yang berkaitan, hingga dapat bekerja dengan aman. Pastikan anda memakai alat pelindung diri (APD) yang sesuai. ”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s